Peranku untuk VsL

Siapa yang tidak kenal Musa Izzanardi? Anak 14 tahun yang berhasil diterima di ITB dan UI.

Izzan, nama akrabnya. Sejak usia 7 tahun sudah ingin segera masuk kuliah, setidaknya di usia 12 tahun sudah kuliah.  Ide ngeyel, tapi saya percaya Izzan bisa.

Pertama kali mengenal Izzan adalah ketika saya dalam masa pencarian jati diri. Pelarian saya adalah membaca buku bertema “prestasi di bawah kemampuan”. Saya merasa ada yang berbeda pada diri saya dari yang lain. Pola berpikir saya berbeda, baik di keluarga ataupun dengan teman sebaya. Dari buku-buku terjemahan itu ada indikasi saya memiliki gaya belajar Visual-spatial Learner (VsL).

Begitu penasarannya dengan tema VsL, saya cari berbagai sumber dan mempelajari kasus-kasusnya dalam jejari sosial. Tak disangka, saya menemukan Kasus Izzan. Izzan dan saya memiliki beberapa kesamaan, misalnya posisi keluarga, belajar matematika dari kemampuan pengamatan. Perbedaan yang menonjol dari kami adalah tingkat intelegensi dan usia kalender.

Saat pertama kali bertemu, dari sisi penampilan tidak ada bedanya seperti anak lainnya. Wajah Izzan lugu dan pemikiran yang polos. Namun secara intuitif saya yakin ada potensi  yang luar biasa dari Izzan. Setidaknya saya ingin percaya demikian.

Motivasi bertemu dengan Izzan selain untuk menyelesaikan skripsi, juga karena keinginan saya mengetahui bagaimana cara hidup individu VsL. Saat itu saya belum menemukan individu Vsl dewasa, jadi Izzan yang masih usia 8 tahun-an saya jadikan objek pengamatan.

Seiring dengan proses pengamatan, ingatan-ingatan masa kecil saya ikut muncul kepermukaan. Tanpa sadar laporan skripsi saya menjadi ajang curhat pribadi. Saya ingin menunjukan pada dunia cara berpikir kami tidak selamanya salah. cara berpikir kami berbeda karena lebih nyaman dengan cara itu.

Bagai harimau kehilangan taring, ketidak nyamanan seolah menghilangkan kemampuan kami.  psikosomatis sampai prilaku menyimpang norma bermunculan ketika kami tidak nyaman. ketidaknyamanan kami bisa menganggu sistem pendidikan. Ingin saya tunjukan bahwa membebaskan kami berpikir dengan cara sendiri akan membantu kami menciptakan karya Inovatif.

Lolosnya Izzan di ITB dan UI memberi semangat baru. Ingin rasanya saya membantu VsL lainnya untuk agar berprestasi optimal. terima kasih Izzan

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s