Apakah menelan ludah dan dahak membatalkan puasa?

ketika berpuasa, kita harus menahan diri untuk masukan makanan dan minuman masuk kedalam mulut (makan dan minum). jika kita dengan sengaja memasukan menelan makan dari mulut, semua sepakat itu membatalkan puasa? tapi bagi mana dengan air ludah atau dahak, apakah membatalkan puasa?

sebelum membahas sah tidaknya puasa jika menelan ludah dan dahak, kita bahas dulu bagiamana hukum dari ludah dan dahak. berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis.” (HR. Bukhari dalam shahihnya, dari sahabat Abu Hurairah). Karena itu, air ludah, keringat, air mata, dan cairan yang keluar dari hidung, semua ini adalah benda suci. Karena inilah hukum asal. Sedangkan air kencing, kotoran, dan semua yang keluar dari dua lubang, depan dan belakang adalah najis. jadi air ludah dan dahak bukan najis yang perlu disucikan (dibersihkan) sebelum atau ketika beribadah.

asal air ludah dari rongga mulut. Karena ludah tidak membatalkan puasa. Bahkan andaikan ada orang yang mengumpulkan ludahnya kemudian dia telan maka puasanya tidak batal. Sayyid Sabiq ketika membahas tentang hal-hal yang dibolehkan ketika puasa, beliau mengatakan: “Demikian pula, dibolehkan untuk menelan benda-benda yang tidak mungkin bisa dihindari. Seperti menelan ludah, debu-debu jalanan, taburan tepung, atau dedak…” (Fiqh Sunnah, 1:342)

Berbeda halnya dengan dahak, dahak berasal dari rongga hidung dan rongga tenggorokan. ada dua hukum tentang menelan dahak.

pertama membatalkan puasa. jika ada orang puasa yang menelan dahak, dalam hal ini ada dua pendapat dari Imam Ahmad: pertama, puasanya batal. Hambal pernah mengatakan: Saya mendengar Imam Ahmad mengatakan: Jika ada orang mengeluarkan dahak, kemudian dia telan lagi maka puasanya batal. Karena dahak berasal kepala (pangkal hidung). Sementara ludah berasal dari mulut. Jika ada orang yang mengeluarkan dahak dari perutnya (pangkal tenggorokannya) kemudian menelannya kembali maka puasanya batal. Ini juga merupakan pendapat Imam Syafi’i.

Kedua, pendapat kedua Imam Ahmad, menelan dahak tidaklah membatalkan puasa. Beliau mengatakan dalam riwayat dari al-Marudzi: “Kamu tidak wajib qadha, ketika menelan dahak pada saat berpuasa, karena itu satu hal yang biasa berada di mulut, bukan yang masuk dari luar, sebagaimana ludah.” (al-Mughni, 3:36). Menelan dadak, jika belum sampai ke mulut maka tidak membatalkan puasa. Ulama madzhab hambali sepakat dalam hal ini. Namun jika sudah sampai ke mulut, kemudian dia telan, dalam hal ini ada dua pendapat ulama. Ada yang mengatakan: Itu membatalkan puasa, karena disamakan dengan makan dan minum.

jadi menurut pendapat para ulama, menelan dahak hukumnya membatalkan puasa jika dahak sudah berada dimulut dan ditelan kembali. tetapi jika dahak masih ditenggorokan dan tertelan tidak membatalkan puasa.

referensi:

https://seindahsunnah.com/hukum-islam/hukum-menelan-dahak-dan-ludah-ketika-puasa-dan-shalat/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s