Matematika menurut Plato

Plato adalah salah satu murid dari socrates. Plato sangat mengidolakan gurunya. selama  sokrates masih hidup sampai tak lama sesudah ia meninggal, merangkum buah pemikirannya dalam buku.  Buku-buku yang di tulisnya pada masa itu adalah Apologie, Kriton, Ion, Protagoras, Laches, Politeia Buku I, Lysis, Charmides dan Euthyphron. Buku-buku ini berkisah tentang logika.

Plato tetarik pada menciptakan dunia yang ideal. hal ini muncul karena ketertarikan pada ajaran sokrates, yang mencari pengertian disambungkan pendapat filosofi sebelumnya terutama pendirian orfisisme dan Pythagoras.

Ketertarikan Plato pada dunia filosofis, mengarahkan pandangan matematika yang unik. Menurut Plato Matematika memiliki 3 falsafah, yaitu

  • MENO

Filsafat matematika bermula dengan phytaghoras, yang meyakinkan bahwa matematika memberikan kunci untuk memahami realitas kepada kita, hal itu dinyatakan oleh plato sebagai orang yang pertama mengartikulasikan bentuk. Pada meno, plato membuktikan bahwa matematika diketahui sebagai sebuah priori yang tanpa membutuhkan pengalaman. gagasan meto muncul, ketika Plato bertanya kepada seorang budak laki-laki (yang tidak memiliki pengalaman ilmu ukur) tentang bukti dalil phytagoras.  ini menarik,  seseorang yang belum pernah mengerti ilmu ukur (geometri) dalam hidupnya bisa dibawa untuk mengkonstruksi sebuah bangun persegi dari  konsep segitiga segitiga siku-siku dan sama kaki.

  • A PRIORI

Kesimpulan Plato tentang pengetahuan matematika adalah sebuah priori, yang artinya bahwa pengetahuan matematika tidak berdasarkan kebenaran indra. Di sini matematika berbeda dari subyek-subyek yang lain. Kecuali logika, dan mungkin filosofi, banyak subyek bergantung pada pemikiran empiris yang berdasarkan pada penglihatan, pendengaran, dan sesuatu yang dapat dirasakan.

Contoh kasus, Anak autis tidak dapat berhubungan dengan orang lain dan mereka memiliki karakteristik yang kurang baik, tetapi mereka dapat menjadi baik dalam pengetahuan matematika. Seseorang tidak memiliki pengetahuan, tidak menyukai agar menjadi matematikawan, ini sangat sulit untuk mempelajari kemanusiaan tanpa rasa senang. Seseorang yang buta, tuli, dan orang yang sangat terbelakang dan siapapun lebih-lebih orang yang dikurung. Jika saya dikurung dan ditangkap oleh komunis dan dikirim ke kereta api lintas Siberia selama 30 tahun. Saya sementara waktu tidak akan mampu untuk mempelajari kimia atau sejarah kuno. Tapi saya mampu membuat teori bilangan prima dan menempatkan matematika dalam kelas terpisah.

  • RELEVAN / SESUAI

Apakah hubungan matematika murni dengan matematika realistik? mana yang lebih relevan? Jika kebenaran matematika diterapkan dalam realitas empiris, seperti yang mereka yakini, mereka harus lebih peka terhadap sangakaan secara empiris.

Plato memberikan contoh dalam buku Phaedo. Kita memiliki konsep 2 hal yang sama, contohnya adalah 2 tongkat menjadi sama panjangnya. Jika kita mengujinya lebih mendalam ternyata kita menemukan bahwa sebenarnya tongkat tersebut tidaklah benar-benar sama. Tentu saja hingga munculnya ahli mekanik kuantum, yang menyatakan bahwa tidak terdapat 2 objek materi yang benar-benar sama panjangnya. Kita tahu bahwa jika A=B dan B=C,maka A=C. Kita akan menemukan sebuah kumpulan objek yang setiap objeknya sama dengan objek berikutnya, tetapi terlihat lebih kecil dibandingkan dengan setelahnya. Kemudian kita tidak mengira, kita telah membuktikan dengan tes klaim eksperimen bahwa persamaan yang sesungguhnya adalah sebuah hubungan transitif, kita tidak berbicara bahwa jika A=B dan B=C,A mungkin juga tidak sama dengan C. Meskipun demikian kita tidak sejalan dengan konsep aplikasi tersebut dan kemudian kita berpernyataan bahwa meskipun kita tidak memahami konsep diatas (A=B, B=C berarti A≠C),beberapa objek tidak dapat benar-benar disamakan dengan objek lainnya. Kemudian ide dan pikiran kita berkembang dengan jelas terhadap persamaan yang benar,kita membuat kesanksian terhadap rumus diatas terhadap presepsi secara individu.

dengan kata lain matematika bisa jadi tidak sama dengan realita, tetapi matematikd dapat menjelaskan realita yang diidealisasikan.

referensi:

http://mathc-edu.blogspot.co.id/2013/01/filsafat-plato-tentang-matematika.html

http://www.biografiku.com/2009/01/biografi-plato.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s