Gifted Visual-spatial Learner, Benarkah Mereka Berbakat?

Berbakat tetapi tidak mampu mengikuti pembelajaran sekolah, prestasi di kelas pun tidak muncul. Apakah benar mereka berbakat? Pertanyaan seperti ini yang sering muncul dari orangtua dan pendidik yang mendampingi perkembangan anak  Gifted visual-spatial learner (G/VsL).

Pengunaan istilah Gifted visual-spatial learner (G/VsL) pertamakali ditemukan dari tulisan-tulisan Silverman, Director of the Gifted Development Center in Denver, Colorado. Berdasarkan hasil penelitian Silverman, setidaknya ada dua gaya berfikir siswa, auditory-sequential dan visual-spatial. Visual-spatial learner (VsL) adalah kelompok minoritas. Dari 750 sampel acak anak kelas empat, lima dan enam dari berbagai tingkat kecerdasan, persentasi kelompok VsL mencapai sepertiga dari sampel (Silverman, 2005b: 8).

Dua gaya berfikir ini memiliki ciri khas tersendiri. Auditory-sequential sangat dipengaruhi oleh audio, sedangkan visual-spatial sangat bergantung pada visi dan visualisasi. Auditory-sequential learner (AsL) sangat menyadari waktu tetapi mungkin kurang menyadari ruang; VsL seringkali sibuk dengan spasial dengan mengorbankan waktu. AsL melibatkan analisis, perkembangan pengetahuan teratur dari yang sederhana sampai yang kompleks, kategorisasi terampil dan organisasi informasi, linier, dan penalaran deduktif. VsL melibatkan sintesis, intuitif terhadap sistem yang kompleks (banyak melewatkan “langkah-langkah dasar”), pengolahan konsep simultan, penalaran induktif, menggunakan citra aktif, dan generalisasi ide dengan menggabungkan elemen berbeda dengan cara-cara baru. Mereka paling mungkin mengalami fenomena “Aha”, insight yang datang secara tiba-tiba (Silverman, 2005b: 11).

Istilah visual-spatial learner sepintas sama dengan istilah visual learner. Julia Maria van Tiel, Orangtua G/VsL sekaligus pembina kelompok diskusi mailinglist anakbakat @yahoogroups.com, (2008: 1) menjelaskan adanya kata spatial di antara kata visual learner adalah karena anak itu mempunyai cara berfikir (cognitive style) kuat dalam berkemampuan seorang visual learner dan kemampuan spasial. Adapun yang dimaksud cara berfikir visual mereka digambarkan dengan pernyataan (Tanpa tahun: 2) berikut:

“Anak-anak visual learner selalu dikatakan mempunyai cara berfikir (cognitive style) yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Anak-anak ini mempunyai gaya berfikir yang disebut gestalt, yaitu berfikir secara simultan dalam bentuk gambar/visual, dan sirkuler. Sirkuler artinya cara berfikirnya tak pernah berhenti, jika ia mendapatkan suatu informasi maka segera informasi yang masuk akan diolah bersama-sama dengan informasi yang sudah berada dalam rekaman memorinya, dan secara cepat dianalisa untuk kemudian menjadi pertanyaan baru, dan di dalam otaknya segeralah ia membuat perkiraan pemecahan masalahnya. Apabila dalam melakukan pemrosesan informasi yang baru itu tidak sesuai dengan berbagai data rekaman di kepala, dengan serta merta ia akan segera menanyakan pada seseorang yang tengah memberinya informasi tersebut. Sebelum ia menemukan jawaban yang sesuai dengan data yang dimiliki, ia tidak akan menerima informasi tersebut….”

Jika seseorang memiliki cara berfikir dengan mengutamakan kemampuan pengindraan mata tanpa diikuti perkembangan dimensi (spasial) yang baik, maka ia adalah seorang visual learner “sejati”. Cara berfikir seperti ini dapat muncul pada anak-anak penyandang autisme dan anak-anak penyandang Non-verbal Learning Disorder (NLD) (van Tiel, 2008: 1).

Mengamati perilaku G/VsL hanya dari cara berfikir visual memungkinan mereka sulit dibedakan dengan kelompok visual learner “sejati”. Misalnya, mereka seringkali menampilkan pemrosesan informasi yang lebih lambat dan fokus pada aktivitas mental tingkat tinggi yang sering ditafsirkan sebagai perilaku menghindari tugas atau melamun. Padahal pada kenyataannya mereka mungkin harus mempertimbangkan seluruh konsep dan merefleksikan potongan informasi-informasi yang cocok untuk membuat skema secara holistik yang sesuai dengan pendekatan belajar mereka; atau mungkin mereka mengalami kesulitan memperhatikan detil informasi terisolasi yang disajikan (Mann, R., 2005: 17-18). Kondisi ini dapat menyebabkan kecerdasan istimewa mereka tersamarkan.

Kelompok G/VsL sebagai kelompok pembelajar dengan gaya belajar yang berbeda belum begitu dikenal luas. Beberapa literatur pada mulanya mengelompokan G/VsL ke dalam cerdas istimewa dengan gangguan belajar, karena pada awal tumbuh kembangnya menunjukan beberapa kesamaan karakteristik. Pendapat tersebut kemudian dibantah De Groot & Paagman (2003) dan von Károlyi & Winner (2004) dengan pernyataannya, sekalipun dapat saja terdapat anak G/VsL yang mengalami gangguan belajar, akan tetapi gangguan itu merupakan komorbiditas dan belum tentu kelak G/VsL dewasa akan mengalami gangguan belajar (van Tiel, 2009: 138).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s